Sebagai negara tropis Indonesia memiliki keanekaragaman jenis ikan air tawar yang sangat tinggi. Diperkirakan jumlah ikan air tawar yang ada sekitar + 1.300 jenis. Tentunya jumlah ini merupakan tertinggi di benua Asia. Lebih jauh dikatakan keanekaragaman jenis ikan air tawar di Indonesia hanya kalah dari Brazil yang memiliki keanekaragaman tertinggi di dunia. Jumlah keanekaragaman hayati ikan air tawar disana mencapai + 3.000 spesies. Para ahli memperkirakan masih ada sekitar ratusan jenis ikan di wilayah Indonesia yang belum ditemukan dan dideskripsikan. Setiap tahunnya ditemukan lebih dari 200 jenis ikan baru diseluruh dunia dan jumlah tersebut akan terus bertambah. Demikian pula halnya di Indonesia, dalam beberapa tahun terakhir ini ditemukan beberapa jenis ikan baru.
Indonesia, tidak hanya memiliki keanekaragaman hayati sumberdaya ikan yang sangat tinggi namun juga sebagai habitat ikan endemic. Setidaknya ditemukan tidak kurang dari ratusan jenis ikan endemik. Istilah endemik berarti jenis makhluk hidup, baik tumbuhan maupun hewan, yang hanya ditemukan di satu lokasi tertentu saja dan tidak ditemukan dilokasi lainnya. Keberadaan sumberdaya ikan ini sangat penting sebagai kekayaan plasma nutfah dan sumber penghidupan bagi masyarakat. Penyebaran ikan endemik di Indonesia banyak dijumpai pada perairan sungai dan rawa banjiran serta danau-danau vulkanik. Mengingat penyebaran ikan-ikan endemik ini sangat terbatas, maka keberadaan harus dijaga agar tidak mengalami kepunahan.
Salah satu jenis ikan yang merupakan spesies baru dan bersifat endemik adalah ikan merah (Pectenocypris nigra). Ikan ini merupakan salah satu jenis ikan yang hidup dilahan gambut Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau. Keberadaan ikan ini jauh dari pemukiman penduduk dan berada didaerah pedalaman Pulau Sumatera. Ikan merah hanya ditemukan di Tasik Besar yang berjarak ± 60 km dari muara Sungai Kampar. Untuk sampai di Tasik Besar, kita harus menyusuri Sungai Serkap dengan waktu tempuh sekitar 2 hari perjalanan menggunakan perahu mesin. Perjalanan ini harus ditempuh pada musim penghujan. Hal ini dikarenakan pada musim penghujan tinggi permukaan air sungai akan naik sehingga sungai lebih mudah dilalui. Bila perjalanan ditempuh pada musim kemarau, permukaan air sungai akan turun. Akibatnya semua vegetasi air seperti rasau maupun bakung akan menutupi seluruh permukan sungai sehingga perjalanan menggunakan perahu motor akan sangat sulit dilakukan.
Medan yang dilalui untuk sampai di Tasik Besar memang sangatlah berat. Selain jalur terbuka di permukaan sungai sangat sempit akibat tutupan vegetasi bakung dan rasau, keberadaan binatang buas seperti buaya, ular dan bahkan harimau menjadi ancaman tersendiri bagi siapapun yang ingin menuju lokasi tersebut.
Ciri-Ciri Ikan Merah
Ikan merah termasuk kedalam genus Pectenocypris. Genus Pectenocypris ini merupakan salah satu genus dari kelompok cyprinid yang merupakan endemik Indonesia. Diketahuinya ikan merah termasuk kedalam genus Pectenocypris ini berasal dari hasil analisa genetika. Terdapat 3 jenis pada genus ini diantaranya Pectenocyprisbalaena, Pectenocypris korthausae dan Pectenocypris micromysticetus. Jika dianalisa dan dibandingkan secara morfometrik, ikan merah berbeda dengan ketiga jenis tersebut. Keberadaan ikan merah (Pectenocypris nigra) diduga merupakan ikan endemik Tasik Besar karena hanya ditemukan dilokasi tersebut dan hingga saat ini tidak ditemukan ditempat lain.
Sesuai dengan namanya, ikan merah memiliki tubuh berwarna merah cerah dengan garis kehitaman memanjang mulai dari tutup insang hingga pangkal ekor dan dipangkal ekor terdapat bintik hitam. Letak mulut berada di ujung hidung dengan tipe sirip ekor bercagak. Jika diperhatikan sepintas ikan ini mirip dengan kelompok ikan Rasbora(seluang). Namun, jika diteliti lebih dalam ikan merah ternyata berbeda dengan ikan Rasbora. Pada saat dewasa ikan merah memiliki ukuran panjang sekitar 30-40 mm.

Gambar 1. Foto Pectenocypris nigra, holotype, 33.1 mm SL, lateral view. MZB 22149. Scale bar = 5 mm (Gambar atas) dan Foto ikan merah dalam kondisi segar (Gambar bawah)
Habitat Hidup Ikan Merah
Ikan merah merupakan ikan endemik Tasik Besar. Untuk mencapai Tasik Besar ini kita harus menyusuri Sungai Serkap. Sungai ini terbentang sepanjang ± 60 km dari hulunya di Tasik Besar sampai ke daerah hilir yang bermuara di Sungai Kampar. Tasik Besar ini terbentang di tengah hutan dengan dengan bentuk menyerupai ikan pari bila dilihat dari peta. Tasik besar memiliki luas ± 3,5 km2 dan berada di bagian hulu Sungai Serkap. Sungai yang terletak di Semenanjung Sungai Kampar ini memiliki beberapa tipe sub ekosistem yang berbeda namun memiliki kemiripan. Sub ekositem tersebut antara lain terdiri dari sungai utama, rawa banjiran, hutan rawa dan danau rawa.
Secara umum kualitas perairan Tasik Besar dan Sungai Serkap dalam kondisi yang baik. Kecerahan perairan berkisar antara 50-100 cm dan perairan bersifat asam serta kandungan oksigen yang cukup. Parameter kualiatas air di Tasik Besar memiliki kemiripan dengan lokasi lain di Sungai Serkap. Uniknya, meskipun kualitas air sepanjang Sungai Serkap relatif sama, keberadaan ikan merah ini tidak pernah dijumpai pada lokasi lain selain di Tasik Besar. Ikan merah memang memiliki karakteristik dan sifat hidup yang spesifik sehingga sangat menarik untuk dikaji lebih dalam secara ilmiah.
Tingkah Laku Ikan Merah
Ikan merah memiliki tingkah laku yang cukup unik. Untuk dapat menangkap atau melihat ikan merah di Tasik Besar, kita harus menunggu sampai waktu menjelang sore. Ketika matahari sudah mulai menguning di ufuk barat, ikan merah akan muncul ke permukaan dan melompat-lompat ke atas air. Kejadian ini hanya berlangsung beberapa saat, yaitu sekitar pukul 17.00-18.30 WIB. Setelah langit gelap ikan kemudian akan menghilang dari permukaan dan perairan akan tenang kembali. Fenomena ikan muncul dan melompat-lompat ke permukaan pada waktu-waktu tertentu merupakan fenomena yang menarik. Besar dugaan ikan merah ini melompat ke permukaan karena pada saat menjelang petang karena banyak terdapat serangga-serangga kecil berterbangan di atas permukaan perairan. Serangga kecil ini merupakan makanan utama ikan merah selain serasah, zooplankton dan serangga air lainnya. Ikan ini hidup bergerombol sehingga saat sore hari jumlahnya sangat banyak hingga mencapai ribuan ekor sehingga sangat mudah ditangkap. Ikan merah muncul hanya ditepi perairan dan pada tempat-tempat tertentu saja terutama tempat yang memiliki air yang tenang (tidak bergelombang).
Kemunculan ikan merah yang setiap harinya hanya ± 1,5 jam ini masih menjadi misteri aneh yang belum terungkap. Hingga saat ini keberadaan ikan tersebut pada waktu lainnya (selain sore hari) juga belum terungkap. Menurut Pak Man (satu-satunya nelayan yang tinggal di Tasik Besar), ikan merah hanya muncul pada sore hari (17.00 hingga 18.30). Diluar waktu tersebut kita tidak akan pernah mendapatkan atau melihatnya. Selain waktu kemunculannya, ikan merah juga memiliki keunikan lainnya. Menurut informasi para nelayan, jika mengkonsumsi ikan merah maka feces orang yang memakannya juga akan berwarna merah. Namun begitu, hingga saat ini tidak ditemukan adanya dampak negatif bagi manusia yang mengkonsumsi ikan merah.
Kandidat Ikan Hias
Saat ini informasi terkait ikan merah masih sangat minim. Kurangnya informasi tentang ikan ini menyebabkan belum banyak orang yang mengetahui dan memanfaatkan nilai ekonomisnya. Dengan bentuk dan warna yang indah, ikan merah cukup pantas dijadikan sebagai kandidat ikan hias air tawar dimasa mendatang. Tingkah laku yang unik dan statusnya sebagai ikan endemik dapat memberikan nilai tambah dan akan menarik minat para penggemar ikan hias. Ukuran tubuhnya yang kecil membuat ikan ini dapat dipelihara pada wadah yang kecil dan tidak memerlukan tempat yang besar seperti ikan arwana ataupun ikan belida.
Pengelolaan Ikan Merah
Habitat ikan merah hanya adalah di Tasik Besar Sungai Serkap dan tidak ditemukan dilokasi lain sekitarnya. Lokasi tersebut sangat sulit dijangkau manusia, sehingga keberadaan ikan merah saat ini masih terjaga dengan baik. Seiring bertambahnya waktu, terungkapnya informasi keberadaan ikan merah serta bertambah populernya ikan ini sebagai kandidat ikan hias masa depan dikhawatirkan dapat mengakibatkan para penggemar ikan hias memburunya.
Keberadaan ikan merah yang sangat terbatas dan mudah ditangkap pada sore hari, menyebabkan kelangsungan hidup ikan ini sangat rentan dari kepunahan. Belum lagi informasi ilmiah tentang tingkah laku, kebiasaan makan dan biologi reproduksi belumlah ada, sehingga upaya untuk budidayanyapun pasti akan sangat sulit dilakukan. Untuk menghindari ikan ini dari kepunahan, diperlukan upaya untuk menjaga kelestarian sumberdaya ikan tersebut. Upaya yang dapat dilakukan adalah menjadikan Tasik Besar sebagai kawasan konservasi terutama bagi ikan merah. Bila ada orang yang ingin menangkap ikan merah, sebaiknya harus memperhatikan jumlah kelimpahannya dialam. Selain itu upaya domestikasi ikan ini juga harus segera dilakukan. Hal ini sangat penting agar budidayaannya dapat segera dilakukan. Apabila usaha budidaya telah berhasil, diharapkan setidaknya stok dialam akan lebih terjaga dengan baik. Para penggiat ikan hiaspun tidak akan beramai-ramai menangkap ikan merah di alam. Mereka dapat membeli ikan merah ini dari usaha budidaya.

Gambar 2. Ikan merah dan habitatnya
Reader dialogue
Comments
Be the first to add a thoughtful response.