Dalam beberapa hari terakhir, Kota Pekanbaru kembali diselimuti kabut asap yang mengganggu. Fenomena tahunan ini merupakan dampak langsung dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah. Data dari Dinas Kebakaran dan Penyelamatan Kota Pekanbaru mencatat peningkatan kasus kebakaran lahan, dimana hingga Oktober 2025 telah terjadi 85 titik kejadian, meningkat dari tahun sebelumnya yang sebanyak 70 titik. Salah satu titik kebakaran yang dilaporkan terjadi di dalam wilayah administrasi Kota Pekanbaru sendiri, seperti yang diumumkan oleh Pemerintah Kota Pekanbaru. Analisis lebih lanjut dari pantauan citra satelit Sentinel 2 MSI mengonfirmasi adanya titik-titik panas di sekitar wilayah Pekanbaru dalam kurun waktu akhir Oktober hingga awal November 2025. Titik-titik ini menunjukkan lokasi aktif kebakaran lahan yang berkontribusi terhadap memburuknya kualitas udara.
Tabel 1: Titik Panas Hasil Pantauan Citra Sentinel 2 MSI di Sekitar Pekanbaru

Asap dari kebakaran ini, ditambah dengan asap kiriman dari daerah sekitarnya seperti Kampar, telah menyebabkan penurunan kualitas udara yang signifikan. Kondisi ini langsung terpantau dalam data real-time kualitas udara (Gambar 1).

Gambar 1: Peta Kualitas Udara (AQI) Pekanbaru dan Sekitarnya
https://www.aqi.in/id/dashboard/indonesia/riau/pekanbaru Sumber: AQI.in
Titik panas yang terpantau di sekitar Pekanbaru ini memperparah kondisi udara yang sebelumnya sudah terdampak asap kiriman dari daerah lain, seperti Kabupaten Kampar. Kombinasi asap dari berbagai sumber ini menyebabkan konsentrasi partikel berbahaya PM2.5 di udara Pekanbaru melonjak drastis. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa pada dini hari 11 November 2025, tingkat PM2.5 sempat mencapai 135 µg/m³, sebuah level yang dikategorikan Tidak Sehat dan berbahaya bagi kesehatan, terutama kelompok rentan.
Dampak Langsung: Lonjakan Polutan PM2.5 yang Berbahaya
Sumber utama pencemaran udara selama musim kabut asap adalah partikel halus berukuran sangat kecil, dikenal sebagai PM2.5. Partikel ini sangat berbahaya karena ukurannya yang mikroskopis memungkinkannya menembus jauh ke dalam paru-paru dan bahkan aliran darah. Layanan pemantau kualitas udara global seperti IQAir secara konsisten menunjukkan bahwa PM2.5 menjadi polutan dominan di Pekanbaru selama periode kebakaran. Data berikut (Tabel 2) memberikan gambaran yang jelas tentang fluktuasi kualitas udara yang dialami warga Pekanbaru.
Tabel 2: Tingkat Kualitas Udara Berdasarkan Konsentrasi PM2.5 (μg/m³). kategorikan tingkat bahaya kualitas udara berdasarkan konsentrasi PM2.5. Pada pagi hari tanggal 12 November 2025, tingkat PM2.5 di Pekanbaru bahkan dilaporkan mencapai 135 μg/m³, yang masuk dalam kategori "Tidak Sehat" menurut standar ini. Artinya, seluruh kelompok masyarakat mulai merasakan dampak kesehatan.

Sumber: Diolah dari IQAir
Dampak bagi Kesehatan dan Langkah Pencegahan
Paparan kabut asap dalam jangka pendek dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, atau yang dikenal sebagai Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Gejala yang umum dijumpai antara lain batuk-batuk, sesak napas, iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan. Kelompok masyarakat yang paling rentan adalah anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan riwayat penyakit asma, jantung, atau paru-paru kronis.
Oleh karena itu, sangat penting bagi warga untuk mengambil langkah-langkah pencegahan, seperti:
- Mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama untuk aktivitas fisik berat.
- Menggunakan masker N95 dengan benar apabila harus beraktivitas di luar.
- Menutup semua jendela dan ventilasi rumah untuk mencegah masuknya partikel halus.
- Memakai pembersih udara (air purifier) di dalam ruangan.
- Memperbanyak minum air putih untuk menjaga kelembaban saluran pernapasan.
Reader dialogue
Comments
Be the first to add a thoughtful response.